
BANTUL – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Bantul terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Kali ini, inovasi hadir dalam pelaksanaan Asesmen Sumatif mata pelajaran Fikih kelas 4 dengan materi Shalat Jum’at. Berbeda dari biasanya, asesmen ini menekankan pada aspek literasi dan numerasi, mengacu pada standar pendidikan modern.
Bukan Sekadar Hafalan
Guru pengampu mata pelajaran PAI, Ahmad Agus Salim, Lc., menjelaskan bahwa integrasi numerasi dalam pelajaran agama sangat penting untuk melatih logika berpikir siswa. Menurutnya, Fikih bukan sekadar menghafal rukun dan syarat, tetapi juga memahami implementasi praktisnya dalam kehidupan sehari-hari melalui data dan angka.
“Kami ingin siswa tidak hanya tahu hukum Shalat Jum’at, tapi juga mampu menganalisis hal-hal terkait teknis pelaksanaannya. Numerasi membantu mereka berpikir lebih presisi,” ujar Ahmad Agus Salim.
Penerapan Numerasi dalam Materi Shalat Jum’at
Dalam asesmen ini, siswa dihadapkan pada soal-soal berbasis masalah (case study) yang melibatkan perhitungan dan logika dasar, di antaranya:
-
Analisis Waktu: Menghitung selisih waktu antara azan pertama dan kedua, serta estimasi durasi khutbah agar jamaah tidak jenuh.
-
Kapasitas Saf: Menghitung jumlah jamaah yang dapat ditampung dalam satu barisan (saf) berdasarkan luas lantai masjid, yang berkaitan dengan syarat sah berjamaah.
-
Ketentuan Umur: Mengklasifikasikan usia jamaah (anak-anak, dewasa, lansia) dalam bentuk tabel sederhana untuk memahami siapa yang sudah terkena kewajiban (mukallaf).
Integrasi PAI dan Literasi
Selain angka, aspek literasi ditekankan melalui pembacaan teks khutbah singkat. Siswa diminta menemukan gagasan utama dan menyimpulkan pesan moral dari teks tersebut. Hal ini bertujuan agar siswa terbiasa menyerap informasi secara utuh dan tidak sepotong-sepotong.
Kepala Madrasah MIN 3 Bantul menyambut baik langkah ini. Integrasi numerasi pada mapel PAI membuktikan bahwa nilai-nilai agama bisa berjalan beriringan dengan kemampuan kognitif yang logis dan terukur.
Dengan metode ini, diharapkan lulusan MIN 3 Bantul tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi juga cakap dalam literasi dan numerasi sebagai bekal menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. (Agassa)




