
Bantul (MIN 3 Bantul). Belajar mengenal waktu seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi siswa sekolah dasar. Namun, di tangan Moh. Fadlan, guru kelas 2 A, tantangan tersebut diubah menjadi kegiatan kreatif yang menyenangkan. Melalui inovasi pemanfaatan limbah, ia mengajak para siswa menyulap kardus bekas menjadi media pembelajaran jam analog yang interaktif.
Alih-alih hanya terpaku pada buku teks, Pak Fadlan—begitu ia akrab disapa—memilih metode Project-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Proyek). Siswa diminta membawa potongan kardus bekas, tutup botol, dan alat tulis untuk merakit jam mereka sendiri.
Dalam sesi pembelajaran ini, para siswa diajarkan:
- Ketelitian: Menentukan titik koordinat angka 1 hingga 12 agar presisi.
- Pemahaman Konsep: Memahami perbedaan jarum panjang (menit) dan jarum pendek (jam).
- Motorik Halus: Menggunting dan menyusun komponen jam dengan estetika masing-masing.
Mengapa Kardus Bekas?
Menurut Moh. Fadlan, penggunaan bahan daur ulang memiliki pesan ganda. Selain sebagai alat peraga yang murah dan mudah didapat, kegiatan ini juga mengedukasi siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan.
”Matematika itu abstrak bagi anak-anak. Dengan memegang langsung ‘jam’ buatan mereka sendiri, siswa lebih cepat paham bagaimana waktu bergerak. Bonusnya, mereka belajar bahwa barang bekas bisa punya nilai tinggi jika dikelola dengan kreativitas,” ujar Fadlan.
Antusiasme Siswa Melejit
Suasana kelas nampak hidup. Para siswa terlihat bersemangat memutar jarum jam buatan mereka saat Pak Fadlan memberikan kuis mengenai jam sarapan atau jam pulang sekolah. Tidak ada lagi wajah tegang saat pelajaran Matematika; yang ada hanyalah tawa dan rasa bangga memamerkan karya masing-masing.
Inovasi sederhana ini membuktikan bahwa kualitas pembelajaran tidak selalu bergantung pada fasilitas mahal. Kreativitas guru seperti Moh. Fadlan menjadi kunci utama dalam menciptakan ruang kelas yang inklusif, ceria, dan bermakna bagi generasi masa depan. (Agassa)




