Bantul (MIN 3 Bantul) – Di tengah gempuran modernitas, sosok Sariman muncul sebagai oase bagi pelestarian budaya di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Bantul. Guru yang dikenal santun ini tidak hanya mengajar mata pelajaran formal, tetapi juga mendedikasikan hidupnya sebagai sosok penguri-uri (pelestari) budaya Jawa bagi generasi muda.

Jejak Pengabdian dari Sumatera hingga Bantul

Dedikasi Sariman dalam dunia pendidikan bukanlah perjalanan yang singkat. Sebelum menetap di MIN 3 Bantul, ia telah mengukir sejarah pengabdian di pedalaman Pulau Sumatera. Di sana, ia berhadapan dengan keterbatasan fasilitas dan akses, namun semangatnya untuk mencerdaskan anak bangsa tak pernah surut.

“Pengalaman di Sumatera menempa kesabaran dan kemandirian saya. Di sana saya belajar bahwa pendidikan bukan hanya soal buku teks, tapi soal pembentukan karakter,” ujar Sariman saat ditemui di sela kesibukannya.

Membawa Napas Budaya ke Madrasah

Kini, di MIN 3 Bantul, Sariman dikenal sebagai motor penggerak literasi budaya. Ia percaya bahwa identitas sebagai orang Jawa tidak boleh hilang meski zaman terus berganti. Melalui pengajaran bahasa Jawa, tata krama (unggah-ungguh), hingga pengenalan seni tradisional, ia berupaya menanamkan nilai-nilai luhur kepada para siswanya.

Bagi Sariman, nguri-uri budaya bukan sekadar hobi, melainkan kewajiban moral agar anak didik tidak tercerabut dari akar budayanya. Kehadirannya di MIN 3 Bantul menjadi bukti bahwa seorang pendidik bisa menjadi jembatan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan kelestarian tradisi. (Agassa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Postingan Terkait