Bantul – Suasana ruang kelas 5 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Bantul tampak berbeda dari biasanya. Tidak hanya terpaku pada buku teks, para siswa diajak berkelana melintasi waktu untuk mengenal sejarah pembangunan Ka’bah dan asal-usul ibadah Haji melalui penayangan media audio visual yang interaktif.

Kegiatan pembelajaran yang berlangsung pada hari ini dipandu langsung oleh Guru Pengampu mata pelajaran Fikih, Ahmad Agus Salim. Langkah ini diambil untuk memberikan visualisasi yang lebih nyata mengenai salah satu rukun Islam yang paling bersejarah.

Menghidupkan Sejarah dalam Ruang Kelas

Dalam sesi tersebut, siswa disuguhkan tayangan yang menggambarkan perjuangan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. saat meletakkan batu pertama pembangunan Baitullah. Melalui media audio visual, detail sejarah seperti munculnya mata air Zamzam hingga perintah berkurban dijelaskan dengan narasi yang mudah dipahami oleh anak-anak usia madrasah.

“Tujuan utama penggunaan media ini adalah agar siswa tidak hanya menghafal teks, tetapi juga merasakan kedekatan emosional dengan sejarah agama mereka,” ujar Ahmad Agus Salim di sela-sela kegiatannya. Menurutnya, visualisasi membantu siswa memahami tata letak fisik Ka’bah dan jalur awal mula pelaksanaan Sa’i antara Shofa dan Marwah secara lebih presisi.

Antusiasme Siswa Meningkat

Metode ini terbukti efektif meningkatkan fokus siswa. Beberapa poin penting yang dipelajari siswa meliputi:

  • Asal-usul Ka’bah: Peran Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. sebagai pembangun pondasi awal.

  • Makna Hajar Aswad: Sejarah peletakan batu hitam yang ikonik.

  • Filosofi Haji: Bagaimana tradisi keluarga Nabi Ibrahim menjadi dasar rangkaian ibadah Haji hingga saat ini.

Salah satu siswa kelas 5 mengaku jauh lebih paham setelah melihat video tersebut. “Dulu bingung membayangkan bagaimana Nabi Ismail mencari air, tapi setelah lihat videonya jadi lebih jelas kenapa kita harus lari-lari kecil saat Sa’i,” ungkapnya.

Komitmen Inovasi Pendidikan

Penggunaan teknologi audio visual di MIN 3 Bantul ini merupakan bagian dari upaya madrasah dalam menyongsong digitalisasi pendidikan. Dengan penyajian yang menarik, diharapkan materi Fikih yang dianggap berat bisa menjadi mata pelajaran yang dinantikan oleh para siswa.

Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif dan kuis singkat mengenai materi yang telah ditonton, guna memastikan pemahaman siswa telah sesuai dengan kurikulum yang berlaku. (Agassa)