
Bantul – Suasana kelas 2 A MIN 3 Bantul tampak berbeda dari biasanya. Riuh rendah suara siswa yang biasanya bermain, kini berganti dengan keseriusan jemari kecil mereka yang menari di atas kertas. Di bawah bimbingan guru kelas, Moh. Fadlan, S. Pd. I, para siswa sedang diajak mengeksplorasi imajinasi mereka melalui seni merangkai kata dalam bentuk puisi.
Menggali Potensi Sejak Dini
Pembelajaran ini bukan sekadar tugas rutin, melainkan upaya sistematis untuk menggali potensi terpendam peserta didik. Menurut Moh. Fadlan, anak-anak usia kelas 2 MI memiliki daya imajinasi yang sangat murni dan jujur.
”Menulis puisi adalah salah satu cara terbaik untuk melatih kepekaan rasa dan kecerdasan linguistik anak. Kami ingin mereka berani mengekspresikan apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan ke dalam bentuk tulisan yang indah,” ujar Fadlan di sela-sela kegiatannya mendampingi siswa, Selasa (20/1).
Metode Belajar yang Menyenangkan
Untuk memudahkan siswa memahami rima dan diksi, Fadlan menggunakan pendekatan kontekstual. Siswa diajak mengamati benda-benda di sekitar kelas, tanaman di taman madrasah, hingga menceritakan rasa sayang kepada orang tua.
Beberapa langkah yang diterapkan dalam pembelajaran ini antara lain:
- Pengamatan Langsung: Siswa melihat objek nyata untuk mencari inspirasi.
- Penyusunan Kata Kunci: Mengumpulkan kata-kata yang berkaitan dengan objek.
- Rangkaian Imajinasi: Menyusun kata-kata tersebut menjadi bait-bait sederhana.
Apresiasi dan Karya
Hasilnya pun luar biasa. Meski masih duduk di bangku kelas 2, beberapa siswa mampu menciptakan baris-baris puisi yang menyentuh hati. Karya-karya terbaik nantinya akan dipajang di mading kelas sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras mereka.
Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap literasi sejak dini. Dengan terbiasa menulis, siswa tidak hanya belajar tata bahasa, tetapi juga belajar membangun kepercayaan diri untuk tampil dengan karya orisinal mereka sendiri. (Agassa)




