
Bantul (MIN 3 Bantul). Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Bantul terus menggalakkan inovasi pedagogis guna meningkatkan kompetensi literasi bahasa asing peserta didik. Pada pembelajaran Bahasa Inggris kelas 6, Siti Yatimah, S.Pd., menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis praktik (practice-based learning) yang berfokus pada diferensiasi serta penerapan tata bahasa Present Tense dan Past Tense dalam percakapan sehari-hari.
Pendekatan ini dirancang untuk menjembatani pemahaman teoritis struktur gramatika dengan kemampuan performatif siswa. Alih-alih menitikberatkan pada memorisasi aturan bahasa secara pasif, kegiatan pembelajaran diorganisasikan melalui simulasi dialog situasional dan permainan peran (role-play). Melalui metode ini, siswa didorong untuk merekonstruksi rutinitas harian menggunakan kaidah Simple Present Tense, sekaligus merefleksikan pengalaman lampau melalui formulasi kalimat berstruktur Simple Past Tense.
Siti Yatimah, S.Pd., menjelaskan bahwa penguasaan tata bahasa fungsional memerlukan artikulasi langsung agar terjadi internalisasi konsep yang bermakna. “Fokus utama dari metode ini adalah membangun fluiditas dan akurasi berbicara. Peserta didik diajak mengenali perbedaan kronologis waktu—antara kebiasaan yang berulang dan peristiwa yang telah selesai—serta mengekspresikannya secara spontan tanpa kecemasan afektif,” paparnya di sela-sela kegiatan belajar-mengajar.
Interaksi di dalam kelas diatur secara kolaboratif dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok menyusun skenario dialog realistis—seperti menceritakan agenda akhir pekan yang telah berlalu dan mendiskusikan rutinitas belajar harian—sebelum mempresentasikannya di depan kelas. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan koreksi formatif terhadap pelafalan (pronunciation) dan ketepatan fleksi kata kerja (verb inflection).
Inisiatif pembelajaran berbasis praktik ini merefleksikan komitmen MIN 3 Bantul dalam mewujudkan pendidikan yang adaptif dan komunikatif. Melalui integrasi gramatika terapan dalam konteks kehidupan nyata, madrasah berupaya membentuk lulusan yang percaya diri dan memiliki daya saing linguistik sejak jenjang pendidikan dasar. (agassa)




