
Bantul – Suasana khidmat menyelimuti ruang kelas Takhosus Tahfidz di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Bantul setiap paginya. Bukan sekadar hafalan mandiri, para siswa di kelas unggulan ini membudayakan tradisi saling menyimak (tasmi’ antarteman) sebagai metode utama memperlancar hafalan Al-Qur’an.
Metode “Setoran” yang Menyenangkan
Berbeda dengan kesan menghafal yang kaku, para siswa tampak duduk berpasangan. Satu siswa melantunkan ayat tanpa melihat mushaf, sementara rekannya menyimak dengan teliti sembari mengoreksi jika terjadi kesalahan tajwid atau keliru dalam makhrajul huruf.
Budaya ini diterapkan untuk melatih ketelitian serta menanamkan rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga kemurnian hafalan.
-
Fokus Utama: Kelancaran hafalan (ittishal).
-
Aspek Koreksi: Panjang pendek (mad), dengung (ghunnah), dan artikulasi huruf.
-
Tujuan Sosial: Melatih kesabaran dan empati antarsiswa.
Manfaat Ganda: Hafalan Kuat, Persahabatan Erat
Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada aspek kognitif siswa, tetapi juga membangun karakter. Dengan saling menyimak, siswa diajarkan untuk menjadi pendengar yang baik dan pemberi saran yang santun.
“Saling menyimak membuat kami lebih percaya diri sebelum setoran ke guru. Kalau ada yang salah, teman langsung memberitahu dengan cara yang baik,” ujar salah satu siswa kelas Takhosus.
Pendampingan Intensif
Meskipun dilakukan antarteman, guru pendamping kelas Takhosus tetap memantau jalannya proses ini. Peran guru adalah sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan terakhir (tashih) setelah siswa merasa yakin dengan simakan temannya.
Program ini diharapkan dapat mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki ikatan emosional yang kuat dengan sesama rekan seperjuangan dalam kebaikan. (Agassa)




