
Bantul – Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Bantul terus berupaya membekali siswanya dengan keterampilan non-akademik yang mumpuni. Salah satu program unggulan yang menjadi wadah pembentukan karakter dan kepercayaan diri siswa adalah Ekstrakurikuler Muhadlarah. Program ini dirancang khusus untuk mencetak generasi muda yang mahir dalam komunikasi publik (public speaking) sekaligus mempersiapkan mereka menjadi da’i cilik di masa depan.
Melatih Mental di Atas Mimbar
Kegiatan Muhadlarah yang rutin dilaksanakan setiap minggu ini menuntut siswa untuk berani tampil di depan teman-teman dan guru. Dalam praktiknya, siswa secara bergantian bertugas menjadi pembawa acara (MC), pembaca ayat suci Al-Qur’an, hingga menyampaikan ceramah singkat atau kultum.
Menurut koordinator keagamaan di MIN 3 Bantul, Agus, latihan ini bukan sekadar berbicara, melainkan proses panjang membangun mentalitas. “Anak-anak dilatih untuk mengelola rasa gugup, menyusun materi yang sistematis, dan menjaga etika saat berbicara di depan umum. Ini adalah bekal berharga yang akan mereka bawa hingga dewasa,” ujarnya.
Kurikulum yang Komprehensif
Program Muhadlarah di MIN 3 Bantul tidak hanya fokus pada ceramah agama, tetapi juga mencakup beberapa aspek penting:
- Penguasaan Materi: Siswa belajar menyusun teks pidato dengan bahasa yang santun dan mudah dipahami.
- Olah Vokal & Intonasi: Melatih penekanan nada agar pesan yang disampaikan lebih menarik dan berwibawa.
- Bahasa Asing: Tak jarang, siswa didorong untuk menyelipkan kalimat dalam Bahasa Arab atau Bahasa Inggris guna meningkatkan kemampuan literasi mereka.
- Adab Berbicara: Menanamkan nilai-nilai kesopanan dan rendah hati sesuai ajaran Islam.
Menyiapkan Generasi Penerus Bangsa
Dengan adanya program ini, MIN 3 Bantul berharap lulusannya tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kemampuan retorika yang baik. Kemampuan komunikasi publik dianggap sebagai keterampilan krusial di era modern, baik untuk jalur profesi sebagai pendakwah maupun profesi lainnya.
Orang tua siswa menyambut positif kegiatan ini. Banyak yang mengaku bangga melihat perubahan drastis pada anak-anak mereka yang kini lebih berani berbicara saat ada acara keluarga maupun kegiatan di lingkungan tempat tinggal mereka.
”Komunikasi adalah jembatan ilmu. Melalui Muhadlarah, kami ingin memastikan jembatan itu dibangun kokoh sejak usia dini.”
Dengan semangat mencetak para da’i cilik, MIN 3 Bantul membuktikan bahwa pendidikan madrasah mampu menyelaraskan antara kurikulum formal dan pengembangan bakat religius yang relevan dengan kebutuhan zaman. (Agassa)




