
Bantul — Pembelajaran Fikih di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Bantul tidak hanya berfokus pada aspek teoretis ibadah, tetapi juga diintegrasikan secara mendalam dengan penanaman karakter mulia. Hal ini tampak pada kegiatan pembelajaran Fikih di kelas 4A yang dibimbing langsung oleh guru pengampu, Ahmad Agus Salim.
Dalam sesi pembelajaran yang membahas bab khitan, Ahmad Agus Salim sukses mengintegrasikan konsep penguatan karakter khas madrasah, yakni Panca Cinta, ke dalam materi yang diajarkan kepada para siswa.
Pembelajaran Interaktif dan Bermakna
Suasana kelas 4A terlihat aktif dan kondusif. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, Ahmad Agus Salim menjelaskan hukum, tata cara, serta hikmah di balik disyariatkannya khitan bagi seorang anak laki-laki. Namun, ia tidak berhenti pada penjelasan hukum fikih semata. Materi tersebut dikaitkan langsung dengan pembentukan kepribadian peserta didik melalui pilar-pilar Integritas Panca Cinta.
“Khitan bukan sekadar bentuk pensucian fisik atau kebersihan semata, tetapi merupakan momentum penting transisi seorang anak menuju kedisiplinan dalam menjalankan syariat Islam. Melalui konsep Panca Cinta, kita ingin anak-anak memahami bahwa menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh adalah wujud cinta kepada diri sendiri dan ketaatan kepada Allah SWT,” ungkap Ahmad Agus Salim di sela-sela kegiatan pembelajaran.
Implementasi Nilai “Panca Cinta”
Penerapan nilai Panca Cinta dalam materi khitan ini dijabarkan melalui beberapa pendekatan edukatif kepada siswa kelas 4A, di antaranya:
-
Cinta Allah dan Rasul-Nya: Menanamkan kesadaran bahwa khitan adalah sunnah para nabi (terutama Nabi Ibrahim AS) dan merupakan bagian dari syariat Islam yang harus disambut dengan kesiapan mental yang positif, bukan dengan rasa takut.
-
Cinta Diri Sendiri (Kesehatan & Kebersihan): Mengedukasi siswa bahwa menjaga kebersihan organ tubuh setelah berkhitan adalah bentuk tanggung jawab pribadi terhadap kesehatan anugerah Sang Pencipta.
-
Cinta Sesama dan Lingkungan: Membangun sikap saling mendukung dan menghargai antar-teman, serta menghilangkan stigma atau rasa malu yang berlebihan terkait proses khitan di kalangan anak-anak sebaya.
Apresiasi dari Pihak Madrasah
Langkah inovatif yang dilakukan oleh Ahmad Agus Salim ini mendapat apresiasi positif dari lingkungan civitas akademika MIN 3 Bantul. Integrasi nilai-nilai karakter ke dalam mata pelajaran agama dinilai sangat efektif untuk membentengi moral peserta didik sejak usia dini.
Melalui pembelajaran Fikih yang kreatif dan sarat makna ini, MIN 3 Bantul terus berkomitmen untuk mencetak generasi muda Islam yang tidak hanya cerdas secara kognitif dalam memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki integritas moral, kepribadian yang tangguh, serta cinta yang luas terhadap nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. (Agassa)




