
Bantul (MIN 3 Bantul) — Suasana ruang kelas 5A MIN 3 Bantul tampak lebih hidup dan penuh antusiasme pada kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Di bawah bimbingan guru kelas, Nurul Arifah, S.Ag., para siswa diajak belajar secara kontekstual melalui proyek pembuatan ekosistem mini berbahan dasar botol plastik bekas, dilanjutkan dengan pengamatan aktivitas makhluk hidup serta penyusunan laporan observasi.
Kegiatan ini bertujuan untuk memadukan pemahaman konsep rantai makanan dan interaksi antarmakhluk hidup dengan penanaman kesadaran peduli lingkungan. Memanfaatkan barang bekas menjadi pilihan strategis agar siswa menyadari bahwa limbah plastik di sekitar mereka dapat didaur ulang menjadi media pembelajaran yang edukatif.
Dalam praktiknya, para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja. Setiap kelompok menyiapkan botol plastik transparan bekas ukuran besar yang dipotong dan dirangkai sedemikian rupa. Di dalam wadah tersebut, siswa menyusun komponen abiotik—seperti tanah subur, kerikil, dan air secukupnya—serta komponen biotik, seperti tanaman hias kecil, lumut, serangga kecil, atau cacing tanah. Rangkaian ini dirancang tertutup agar menyerupai simulasi siklus air dan pertukaran energi di alam terbuka.
Guru kelas 5A, Nurul Arifah, S.Ag., menyampaikan bahwa metode praktikum langsung memberikan pengalaman belajar yang jauh lebih membekas bagi siswa sekolah dasar.
“Melalui ekosistem mini ini, anak-anak tidak sekadar menghafal definisi biotik dan abiotik dari buku. Mereka melihat sendiri bagaimana tanaman berembun, bagaimana cacing menggemburkan tanah, dan bagaimana keseimbangan lingkungan itu bekerja. Penggunaan botol bekas juga mengajarkan mereka prinsip 3R (reuse, reduce, recycle) sejak dini,” jelas Nurul di sela-sela pendampingan.
Setelah ekosistem buatan selesai dirakit, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pengamatan berkala. Para siswa mencatat perubahan fisik, perkembangan daun, tingkat kelembapan dinding botol, serta perilaku organisme kecil di dalamnya ke dalam lembar kerja observasi. Setiap kelompok kemudian menyusun laporan sederhana yang dipresentasikan di depan kelas, memuat analisis interaksi antarkomponen serta kesimpulan terkait keseimbangan ekosistem.
Kegiatan berbasis proyek (Project-Based Learning) ini tidak hanya mengasah keterampilan motorik dan daya kritis siswa dalam sains, tetapi juga melatih kerja sama tim, kemampuan menulis ilmiah sederhana, dan kecintaan terhadap kelestarian alam sekitar. Proyek ekosistem mini karya siswa kelas 5A ini kini terpajang rapi di sudut sains kelas sebagai portofolio belajar mandiri. (Agassa)




