Bantul – Madrasah Ibtidaiyah Negeri  3 Bantul terus berkomitmen menjaga tradisi belajar kelompok di lingkungan sekolah. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan upaya sadar untuk nguri-uri (melestarikan) budaya diskusi dan musyawarah di kalangan siswa sejak dini.

​Pihak sekolah meyakini bahwa belajar kelompok adalah wadah efektif bagi siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas kompleks secara bersama-sama. Dengan berkelompok, siswa tidak hanya fokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses bertukar pikiran.

​Mengapa Tradisi Ini Penting?

​Ada beberapa alasan mendasar mengapa MIN 3 Bantul sangat menekankan pola belajar seperti ini:

    • Membiasakan Diskusi: Siswa dilatih untuk berani menyampaikan pendapat dan mendengarkan perspektif teman sejawat.
    • Semangat Musyawarah: Mencari jalan keluar terbaik atas sebuah persoalan melalui mufakat, sesuai dengan nilai luhur bangsa.
    • Kolaborasi, Bukan Kompetisi: Mengubah pola pikir dari persaingan individual menjadi kerja sama tim yang solid.

​”Kami ingin siswa terbiasa bahwa sebuah masalah atau tugas akan lebih ringan jika diselesaikan dengan duduk bersama dan bermusyawarah,” ujar Nurul Arifah, guru kelas 5 di MIN 3 Bantul.

​Implementasi di Kelas

​Dalam praktiknya, para guru di MIN 3 Bantul secara rutin memberikan penugasan berbasis proyek yang menuntut kerja tim. Tradisi ini terbukti mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa yang cenderung pasif dan meredam ego siswa yang dominan.

​Dengan menjaga tradisi ini, MIN 3 Bantul berharap dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keterampilan sosial dan etika bermusyawarah yang baik. (Agassa)