
Bantul – Pendidikan Agama Islam (PAI) kini tidak lagi sekadar hafalan dalil dan teori. Di tangan Ahmad Agus Salim, seorang pendidik kreatif, mata pelajaran PAI disulap menjadi wadah penguatan literasi membaca yang efektif untuk menunjang prestasi akademik siswa secara keseluruhan.
Langkah ini diambil menyusul pentingnya kemampuan literasi sebagai fondasi utama dalam memahami teks-teks keagamaan yang kompleks serta materi pelajaran lainnya.
Dalam praktiknya, Ahmad Agus Salim menerapkan metode di mana siswa tidak hanya membaca teks, tetapi juga melakukan analisis mendalam. Beberapa poin utama dalam format pembelajaran ini meliputi:
Bedah Teks Kontekstual: Siswa diajak menelaah literatur agama dan menghubungkannya dengan isu sosial terkini.
Resume Kreatif: Membiasakan siswa menuliskan kembali pemahaman mereka dalam bentuk peta konsep atau narasi pendek.
Diskusi Kritis: Membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui sesi tanya jawab yang berbasis pada referensi bacaan yang valid.
“Literasi bukan hanya soal bisa membaca, tapi bagaimana siswa mampu menyaring informasi dan memahami esensi dari apa yang mereka baca. Jika literasi agamanya kuat, daya nalar mereka di pelajaran lain pun akan ikut terasah,” ujar Ahmad Agus Salim saat ditemui di sela kegiatannya.
Hasil dari integrasi ini mulai terlihat signifikan. Siswa tidak hanya menunjukkan peningkatan nilai pada mata pelajaran PAI, tetapi juga menunjukkan kemajuan dalam kemampuan menyampaikan argumen dan kepercayaan diri saat presentasi.
Peningkatan aspek literasi ini dipercaya menjadi kunci utama dalam mempersiapkan siswa menghadapi standar asesmen nasional yang kini sangat menitikberatkan pada kemampuan literasi dan numerasi.
Inovasi yang dilakukan Ahmad Agus Salim diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru lain. Dengan menjadikan literasi sebagai jantung pembelajaran, sekolah tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara spiritual, tetapi juga unggul secara intelektual dan kompetitif di kancah nasional. (Agassa)




