
Bantul (MIN 3 Bantul)– Suasana penuh keceriaan tampak di ruang kelas 1A. Gelak tawa dan antusiasme siswa terdengar saat mereka diajak mengenal kata melalui metode yang unik dan interaktif: Payung Suku Kata. Inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia ini diinisiasi langsung oleh wali kelas sekaligus guru pengampu, Muslikhah.
Membaca awal pada fase fondasi kelas 1 sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi pendidik. Sadar bahwa anak usia dini lebih mudah menyerap materi melalui pengalaman visual dan kinestetik, Muslikhah merancang media payung warna-warni yang digantungi berbagai kartu suku kata awal (seperti ba-, bi-, bu-, ca-, ci-, cu-).
Melalui media ini, siswa diajak aktif memutar, memilih, dan memadukan suku kata awal menjadi sebuah kata yang utuh dan bermakna.
“Kami berupaya mengemas pembelajaran semenarik mungkin. Media Payung Suku Kata ini berfungsi sebagai jembatan ingatan bagi anak-anak agar membaca permulaan tidak terasa seperti beban hafalan, melainkan permainan yang menyenangkan,” ungkap Muslikhah di sela-sela kegiatan.
Langkah Praktik Pembelajaran
Eksplorasi Visual: Siswa mengamati payung yang telah ditempeli suku kata awalan tertentu.
Permainan Pasang Kata: Siswa bergantian maju untuk mengambil potongan suku kata lanjutan dan mencocokkannya hingga membentuk kata benda sehari-hari (misal: pa-yung, bo-la, bu-ku).
Membaca Bersama (Pelafalan Intonasi): Seluruh kelas melafalkan kata yang berhasil dirangkai dengan tepuk irama untuk memperkuat daya ingat.
Hasilnya, keterlibatan siswa di kelas meningkat drastis. Siswa yang awalnya ragu mengeja kini tampak percaya diri mengangkat tangan dan maju ke depan kelas.
Kegiatan ini membuktikan bahwa kreativitas guru dalam memanfaatkan media sederhana mampu menghadirkan atmosfer belajar yang ramah anak, efektif, sekaligus bermakna bagi literasi dasar di sekolah. (Agassa)




