Bantul (MIN 3 Bantul) — Suasana ruang kelas 6B MIN 3 Bantul tampak semarak dan penuh antusiasme pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Di bawah bimbingan guru kelas, Hajar Utami, S.Pd., para siswa diajak memahami mekanisme sistem pernapasan manusia bukan sekadar melalui teori di buku teks, melainkan lewat praktik langsung merakit model organ pernapasan sederhana.

​Pembelajaran berbasis praktik ini memanfaatkan alat dan bahan sederhana yang mudah ditemukan, seperti botol plastik bekas, sedotan, balon, dan plastisin. Botol plastik difungsikan sebagai rongga dada, sedotan sebagai trakea dan bronkus, sedangkan balon di dalam botol menggambarkan paru-paru serta balon di bagian dasar bertindak sebagai diafragma.

​Hajar Utami, S.Pd. menjelaskan bahwa metode hands-on learning ini bertujuan memberikan pengalaman belajar yang konkret dan bermakna bagi peserta didik.

​”Konsep pernapasan sering kali abstrak jika hanya dijelaskan lewat gambar atau teks. Melalui pembuatan model sederhana ini, anak-anak dapat melihat langsung bagaimana kerja diafragma saat menarik napas (inspirasi) dan menghembuskan napas (ekspirasi). Mereka belajar sambil berkreasi,” terang Hajar di sela-sela kegiatan.

​Dalam pelaksanaannya, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk melatih keterampilan kolaborasi, komunikasi, serta pemecahan masalah. Secara bertahap, mereka memotong botol, merangkai cabang sedotan, dan menguji kekedapan udara pada model yang dirakit. Ketika membran balon bagian bawah ditarik ke bawah, balon di dalam botol tampak mengembang—menunjukkan masuknya udara ke paru-paru—yang disambut decak kagum para siswa.

​Salah satu siswa kelas 6B mengaku sangat senang dengan metode belajar seperti ini. Menurutnya, proses membuat alat peraga secara langsung mempermudah pemahaman mengenai fungsi organ tubuh dibandingkan hanya menghafal nama-nama bagian organ.

​Melalui kegiatan inovatif ini, MIN 3 Bantul terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan aplikatif guna menumbuhkan daya nalar kritis serta kecintaan siswa terhadap sains sejak dini. (Agassa)