Bantul (MIN 3 Bantul) — Suasana ruang kelas 2B MIN 3 Bantul tampak semarak pada pembelajaran Matematika. Dipandu oleh guru kelas, Maryati, para siswa diajak memahami materi pengurangan dan penguraian bangun datar melalui metode praktik langsung menggunakan media kertas lipat warna-warni (origami).

Pembelajaran ini dirancang untuk mengubah anggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang abstrak dan sulit bagi siswa usia dasar. Dengan memegang, melipat, dan memotong langsung kertas aneka warna, siswa diajak mengeksplorasi bagaimana suatu bangun datar dapat diurai atau dikurangi menjadi bentuk bangun datar yang baru.

Maryati menjelaskan bahwa media konkret sangat dibutuhkan bagi perkembangan kognitif siswa kelas 2 yang masih berada pada fase operasional konkret.

“Anak-anak usia kelas 2 lebih cepat menangkap konsep ruang dan bentuk jika mereka menyentuh dan mempraktikkannya sendiri. Ketika sebuah persegi dipotong diagonalnya, mereka melihat langsung bahwa bentuk itu berkurang atau terurai menjadi dua segitiga. Warna-warni kertas juga menjaga fokus dan semangat belajar mereka,” ujar Maryati di sela-sela kegiatan.

Dalam praktik tersebut, setiap siswa dibekali beberapa lembar kertas warna-warni, gunting ramah anak, dan lem. Langkah demi langkah mereka ikuti dengan antusias:

Mengenali bentuk dasar awal (seperti persegi panjang atau persegi).

Menentukan garis potong untuk mengurai bangun tersebut.

Mengamati sisa bentuk yang terbentuk setelah bagian tertentu dikurangi atau dipisahkan.

Menempelkan hasil kreasi bangun datar tersebut ke dalam buku kerja masing-masing.

Keceriaan terpancar dari raut wajah para siswa. Mereka tidak hanya belajar konsep geometri dasar, tetapi juga melatih keterampilan motorik halus, ketelitian, serta daya imajinasi visual.

Kepala MIN 3 Bantul turut mengapresiasi inovasi pembelajaran aktif yang konsisten diterapkan oleh para pendidik. Pembelajaran kontekstual dan interaktif seperti ini diharapkan terus membangkitkan motivasi siswa madrasah untuk mencintai matematika sejak dini. (Agassa)