
Bantul – Kedisiplinan bukan sekadar aturan, melainkan nafas hidup bagi Sutinah. Sosok pendidik yang kini mengabdikan diri sebagai Guru Kelas 3 B di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Bantul ini dikenal luas oleh rekan sejawat dan wali murid sebagai guru ASN yang sangat memegang teguh nilai-nilai ketertiban dalam mendidik.
Berawal dari Derap Langkah Pramuka
Ketegasan Sutinah tidak muncul begitu saja. Akar kedisiplinannya tertanam kuat sejak masa sekolah melalui hobinya di organisasi Pramuka. Baginya, Pramuka bukan sekadar ekstrakurikuler, melainkan laboratorium karakter yang mengajarkan ketangkasan, kemandirian, dan kepatuhan pada janji (Dasa Darma).
”Pramuka mengajarkan saya bahwa segala sesuatu harus terukur dan terencana. Kedisiplinan itulah yang saya bawa hingga ke depan kelas hari ini,” ungkapnya saat ditemui di sela kesibukan mengajar.
Hidup Bersahaja dan Empati Tinggi
Meski dikenal disiplin, Sutinah bukanlah sosok yang kaku. Karakter aslinya justru sangat lembut. Sejak kecil, ia dididik oleh orang tuanya untuk menjalani hidup bersahaja. Kesederhanaan inilah yang menumbuhkan rasa empati yang tinggi terhadap lingkungan sekitar.
Di MIN 3 Bantul, ia tidak hanya menuntut siswa untuk tertib secara akademik, tetapi juga peka terhadap sesama. Ia seringkali menjadi teladan bagi rekan-rekan guru lainnya dalam hal kepedulian sosial di lingkungan sekolah.
Menjadi Panutan di Kelas 3 B
Sebagai guru ASN, tanggung jawab Sutinah kini terfokus pada pengembangan siswa kelas 3 B. Di mata para siswa, Bu Sutinah adalah sosok “Ibu” yang tegas namun penyayang. Ia percaya bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari hal-hal kecil, seperti datang tepat waktu dan menjaga kebersihan bangku sendiri.
”Mendidik anak-anak usia dasar memerlukan keseimbangan antara ketegasan dan kasih sayang. Kita ingin mencetak generasi yang pintar secara otak, tapi juga tertib secara perilaku,” tambah Sutinah.
Kini, dedikasi Sutinah menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai yang dipelajari semasa muda—seperti semangat kepramukaan dan kesederhanaan—bisa menjadi modal berharga dalam membangun kualitas pendidikan di Indonesia. (Agassa)




