Bantul – Suasana kelas 6 di MIN 3 Bantul tampak berbeda dari biasanya. Tidak hanya terpaku pada buku teks, para siswa terlihat antusias mengikuti mata pelajaran Al-Qur’an Hadist (Qurdis) dengan metode yang menyegarkan. Adalah Diana Fitri Umami, S. Ag., guru pengampu mapel tersebut, yang menginisiasi inovasi pembelajaran bertajuk “Papan Semangat” untuk materi Surah Al-Insyirah.

Mengubah Teori Menjadi Motivasi

​Surah Al-Insyirah yang bermakna “Kelapangan” mengandung pesan mendalam tentang optimisme dan janji bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Untuk memastikan pesan ini meresap ke dalam sanubari siswa, Diana menciptakan media “Papan Semangat”.

​Melalui media ini, siswa tidak hanya menghafal ayat, tetapi juga diajak untuk:

  • Visualisasi Makna: Menempelkan potongan ayat beserta artinya pada papan kreatif yang didesain interaktif.
  • Refleksi Diri: Menuliskan tantangan atau “kesulitan” belajar yang mereka hadapi, lalu memasangkannya dengan janji kemudahan yang terkandung dalam ayat 5 dan 6 Surah Al-Insyirah.
  • Apresiasi Teman: Memberikan kata-kata motivasi antar sesama siswa yang ditempelkan pada papan tersebut.

Inovasi Berbasis Karakter

​Menurut Diana Fitri Umami, penggunaan Papan Semangat ini bertujuan agar pembelajaran PAI tidak membosankan dan relevan dengan kondisi psikologis siswa kelas 6 yang mulai menghadapi persiapan ujian.

​”Kami ingin siswa memahami bahwa Al-Qur’an adalah sumber motivasi nyata. Dengan Papan Semangat, mereka belajar bahwa setiap kesulitan adalah proses menuju kemudahan, sesuai dengan inti dari Surah Al-Insyirah,” ujar Diana.

Dampak Positif di Kelas

​Inovasi ini mendapat respon positif dari para siswa. Kelas menjadi lebih hidup, dan interaksi antar guru serta siswa terbangun dengan lebih emosional dan bermakna. Siswa mengaku lebih mudah menghafal dan memahami konteks surah karena terlibat langsung dalam pembuatan media belajarnya.

​Langkah inovatif ini diharapkan dapat terus dikembangkan di MIN 3 Bantul sebagai upaya meningkatkan literasi digital dan kreatifitas dalam pendidikan agama, sehingga nilai-nilai karakter dapat terbentuk sejak dini melalui cara-cara yang menyenangkan. (Agassa)