
Bantul – Keluarga besar Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Bantul menyampaikan rasa duka cita dan keprihatinan mendalam atas musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan. Musibah ini tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan kualitas udara.
Menyikapi bencana ekologis tersebut, MIN 3 Bantul mengajak seluruh warga madrasah untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam melalui penguatan ekoteologi dalam pembelajaran sehari-hari. Ekoteologi memadukan pemahaman keagamaan dengan kesadaran lingkungan, menempatkan pelestarian alam sebagai bagian integral dari keimanan.
Langkah Nyata Penguatan Ekoteologi di MIN 3 Bantul
Doa Bersama untuk Bumi: Menggelar doa bersama untuk keselamatan warga terdampak karhutla, para petugas pemadam, serta pemulihan ekosistem hutan Kalimantan.
Integrasi Kurikulum Berbasis Lingkungan: Menyelipkan nilai khalifah fil ardli (pemimpin pelestari bumi) dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, dan Fikih agar siswa memahami bahwa merusak alam bertentangan dengan ajaran agama.
Gerakan Madrasah Hijau: Membiasakan siswa merawat tanaman di lingkungan madrasah, menghemat penggunaan air dan listrik, serta mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai.
Kepala MIN 3 Bantul menegaskan bahwa pendidikan karakter di madrasah tidak boleh berhenti pada ranah ibadah ritual (hablum minallah) dan hubungan sosial (hablum minannas), melainkan harus meluas pada kepedulian terhadap alam (hablum minal ‘alam).
Melalui pembiasaan sejak bangku madrasah ibtidaiyah, siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepekaan ekologis tinggi serta tidak mengulangi kelalaian yang memicu krisis lingkungan di masa depan. (Agassa)




