Dalam sesi pembelajaran tersebut, para siswa terlihat antusias mengikuti arahan guru. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil di mana siswa yang lebih dulu memahami materi tampak aktif membantu dan menerangkan kembali kepada rekan sekelompoknya yang masih mengalami kesulitan. Interaksi dua arah ini terbangun secara alami, mencerminkan tingginya kepedulian sosial di antara para siswa.
Fitaria Dewi Pratiwi selaku wali kelas 5 B menjelaskan bahwa metode tutor sebaya ini sengaja diterapkan untuk menumbuhkan sikap mandiri, kerja sama, sekaligus melatih rasa percaya diri siswa.
“Melalui metode ini, anak-anak tidak hanya belajar memahami materi akademik dari buku, tetapi mereka juga belajar cara berkomunikasi, berempati, dan saling mendukung satu sama lain. Siswa yang menerangkan juga mendapatkan manfaat berupa penguatan pemahaman materi,” ujar Fitaria.
Meski siswa saling membantu antar-teman, peran Fitaria sebagai fasilitator tetap berjalan intensif. Beliau secara aktif berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lainnya untuk memantau proses diskusi, meluruskan pemahaman yang kurang tepat, serta memberikan bimbingan lanjutan bagi siswa yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam.
Pendekatan pembelajaran yang inklusif dan kolaboratif ini berhasil menciptakan atmosfer kelas yang kondusif. Para siswa mengaku merasa lebih nyaman dan tidak canggung untuk bertanya kepada teman sebaya ketika ada konsep materi yang belum mereka pahami.
Melalui kegiatan ini, MIN 3 Bantul kembali membuktikan komitmennya dalam menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata, tetapi juga pembentukan karakter positif, solidaritas, dan kecakapan sosial peserta didik sejak dini. (Agassa)