
Bantul (MIN 3 Bantul) – Masa Ta’aruf Murid Madrasah di MIN 3 Bantul tahun ini terasa lebih istimewa. Tidak hanya sekadar pengenalan gedung dan tata tertib, siswa kelas 1A diajak untuk menyelami warisan budaya melalui permainan tradisional Dakon.
Kegiatan ini dipandu langsung oleh guru kelas 1A, Ibu Muslikhah, S.Pd.I., yang memiliki inisiatif untuk mendekatkan para siswa baru dengan nilai-nilai kearifan lokal di tengah arus digitalisasi yang kian pesat.
Mengapa Dakon?
Menurut Ibu Muslikhah, permainan Dakon dipilih bukan tanpa alasan. Permainan tradisional ini mengandung nilai-nilai edukatif yang sangat relevan bagi perkembangan anak usia dini, di antaranya:
-
Melatih Kejujuran dan Sportivitas: Anak belajar untuk jujur dalam menghitung biji dakon dan menerima hasil permainan dengan lapang dada.
-
Melatih Kemampuan Berhitung: Secara tidak langsung, anak-anak belajar konsep matematika dasar saat mengisi dan memindahkan biji dakon ke dalam lubang.
-
Mengasah Kesabaran: Dibutuhkan fokus dan strategi untuk memenangkan permainan, yang melatih anak untuk tidak terburu-buru.
“Melalui kegiatan nguri-nguri (melestarikan) kearifan lokal seperti Dakon ini, kami ingin menanamkan rasa cinta tanah air kepada anak-anak sejak mereka baru menginjakkan kaki di bangku sekolah dasar,” ujar Ibu Muslikhah di sela-sela kegiatan.
Antusiasme Siswa Kelas 1A
Meskipun bagi sebagian besar siswa permainan ini adalah hal yang baru, antusiasme di ruang kelas 1A tampak sangat tinggi. Tawa riang pecah saat mereka berhasil memindahkan biji-biji dakon dari lubang ke lubang. Ibu Muslikhah dengan sabar membimbing setiap siswa memahami aturan main, sekaligus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan akrab.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi siswa MIN 3 Bantul untuk lebih menghargai tradisi warisan leluhur. Dengan pengenalan yang menyenangkan, kearifan lokal tidak akan hilang ditelan zaman, melainkan tetap hidup dan lestari melalui generasi penerus di sekolah. (Agassa)




