Bantul – Suasana ruang kelas 5 MIN 3 Bantul tampak berbeda dari biasanya. Meja-meja yang biasanya penuh dengan buku tulis, kini dipenuhi dengan gulungan rotan warna-warni. Para siswa terlihat antusias menyilangkan bilah-bilah rotan, mengubah bahan mentah menjadi karya seni fungsional yang estetis.

Kegiatan ini merupakan bagian dari praktik mata pelajaran Seni Rupa. Di bawah bimbingan guru pengampu, Nurul Arifah, S. Ag. dan Fitaria Dewi Pratiwi, S. Pd., para siswa diajak untuk mengeksplorasi teknik anyaman tradisional dengan sentuhan modern.

Mengubah Rotan Menjadi Karya Seni

Bukan sekadar menganyam, para siswa ditantang untuk menciptakan berbagai benda seperti:

  • Vas Bunga: Dengan struktur yang kokoh dan gradasi warna yang menarik.

  • Bucket (Wadah): Keranjang serbaguna yang bisa digunakan untuk hiasan maupun tempat penyimpanan.

Ibu Nurul Arifah menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melatih kesabaran dan ketelitian siswa. “Menganyam itu membutuhkan konsentrasi tinggi. Selain mengasah motorik halus, kami ingin anak-anak menghargai proses dalam menciptakan sebuah karya,” ujarnya.

Antusiasme dan Inovasi

Fitaria Dewi Pratiwi menambahkan bahwa penggunaan rotan berwarna warni sengaja dipilih untuk memancing kreativitas visual siswa. “Dengan rotan yang berwarna-warni, siswa lebih bebas berekspresi. Mereka belajar memadukan warna agar hasil anyamannya terlihat harmonis dan memiliki nilai seni tinggi,” jelasnya.

Salah satu siswa kelas 5 mengaku sangat senang dengan praktik ini. Menurutnya, meskipun awalnya sulit untuk mengatur pola anyaman agar konsisten, melihat hasil akhir yang berwarna cerah memberikan kepuasan tersendiri.

Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan jiwa wirausaha dan apresiasi terhadap kerajinan lokal sejak dini. Hasil karya para siswa ini nantinya akan dipajang di lingkungan sekolah sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas mereka. (Agassa)