Bantul – Suasana belajar di kelas 4 MIN 3 Bantul tampak berbeda dari biasanya. Ahmad Agus Salim, guru PAI di madrasah tersebut, melakukan terobosan kreatif dengan menggunakan metode Mind Mapping (peta pikiran) untuk menjelaskan materi Shalat Dhuha.

Metode ini dipilih untuk membantu siswa mengorganisir informasi yang kompleks menjadi visual yang sederhana dan mudah diingat. Dibandingkan hanya menghafal teks dari buku, siswa diajak memetakan tata cara, niat, hingga keutamaan Shalat Dhuha dalam bentuk percabangan warna-warni.

Dalam sesi pembelajaran tersebut, Ahmad Agus Salim memulainya dengan membuat satu titik pusat di papan tulis bertuliskan “Shalat Dhuha”. Dari sana, ia menarik garis-garis cabang yang meliputi syarat & Ketentuan: Waktu pelaksanaan dan jumlah rakaat. Tata Cara: Bacaan niat dan urutan gerakan. Doa Khusus: Lail-fadhilah dan doa setelah Shalat Dhuha. Keutamaan: Manfaat spiritual dan pembuka pintu rezeki.

:Siswa kelas 4 berada pada fase transisi di mana mereka butuh visualisasi yang kuat. Dengan Mind Mapping, mereka tidak hanya melihat deretan kalimat, tapi melihat struktur ibadah secara utuh,” ujar Ahmad Agus Salim di sela-sela kegiatannya.

Para siswa terlihat antusias saat diminta membuat mind map mereka sendiri di buku catatan dengan menggunakan spidol warna-warni. Pendekatan ini terbukti efektif meningkatkan fokus dan daya ingat siswa terhadap materi yang disampaikan.

Kepala MIN 3 Bantul turut mengapresiasi inovasi ini. Penggunaan media pembelajaran yang kreatif diharapkan dapat terus dikembangkan agar suasana belajar di madrasah tetap menyenangkan dan tidak membosankan. (Agassa)