
Bantul – Bulan suci Ramadhan menjadi momentum emas bagi MIN 3 Bantul untuk memperkuat pondasi karakter peserta didiknya. Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, madrasah ini menekankan pentingnya pembentukan akhlak melalui integrasi kearifan lokal dan adab islami dalam keseharian siswa.
Salaman: Titik Temu Budaya dan Agama
Salah satu pemandangan yang rutin terlihat adalah tradisi salaman antara siswa dan guru. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan simbol penghormatan yang mendalam. Dalam perspektif kearifan lokal Jawa, salaman mencerminkan ngajeni (menghargai), sementara dalam adab islami, ini adalah bentuk pemuliaan terhadap guru atau orang yang lebih tua.
”Kami ingin siswa memahami bahwa Islam dan budaya lokal bisa berjalan beriringan. Salaman adalah ekspresi kasih sayang sekaligus bentuk tawadhu (rendah hati),” ujar pihak madrasah dalam sela-sela kegiatan Ramadhan.
Pilar Pembelajaran Karakter
Selama bulan Ramadhan, kurikulum karakter di MIN 3 Bantul difokuskan pada beberapa poin utama:
-
- Penerapan Adab Sehari-hari: Mulai dari cara berbicara yang santun hingga etika saat berinteraksi di lingkungan madrasah.
- Penguatan Spiritual: Melalui pembiasaan ibadah sunnah yang dijalankan dengan penuh kesadaran, bukan paksaan.
- Harmonisasi Tradisi: Menjaga nilai-nilai luhur adat jawa yang dipadukan dengan nafas keislaman yang kuat.
”Pendidikan karakter tidak bisa hanya diajarkan lewat buku, tapi harus dirasakan melalui kebiasaan. Ramadhan adalah laboratorium terbaik untuk itu.”
Dengan menekankan pada aspek afektif (sikap), diharapkan lulusan MIN 3 Bantul tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki pribadi yang santun dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.(Agassa)




