Bantul – Suara lantang nan penuh emosi terdengar dari salah satu sudut ruang perpustakaan siang tadi. Adalah Ubaidatu Rofiqoh, siswi yang dikenal tekun, tampak sedang serius mengolah rasa dan vokal. Bukan tanpa alasan, Ubaidatu sedang giat berlatih membaca salah satu karya legendaris sastrawan W.S. Rendra, yakni “Sajak Orang Lapar”.

Membawakan karya “Si Burung Merak” (julukan W.S. Rendra) bukanlah perkara mudah, apalagi bagi siswa sekolah dasar. “Sajak Orang Lapar” menuntut pembacanya untuk memahami kritik sosial yang tajam dan rasa lapar yang bukan sekadar fisik, tapi juga lapar akan keadilan.

​Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Ubaidatu. Dengan bimbingan guru dan kemauannya yang keras, ia berulang kali mengulang bait-bait sulit untuk memastikan intonasi dan mimik wajahnya selaras dengan makna puisi tersebut.

​”Kelaparan adalah burung gagak yang licik dan hitam”

​Potongan bait tersebut dibawakan Ubaidatu dengan penuh penghayatan, seolah ia ingin menyampaikan pesan mendalam kepada siapa pun yang mendengarnya.

​Persiapan Menuju Penampilan Terbaik

​Giat berlatih ini dilakukan Ubaidatu sebagai persiapan untuk lomba MATSAGA di MTs.N 3 Bantul. Teman-teman sekelasnya pun turut memberikan dukungan moral saat melihat Ubaidatu berlatih di sela-sela jam istirahat.

​Ketekunan Ubaidatu menjadi bukti bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk mencintai karya sastra berat. Dengan latihan yang konsisten, ia berharap dapat memberikan penampilan yang memukau dan menghidupkan kembali ruh dari puisi W.S. Rendra di atas panggung nanti. (Agassa)