Bantul (MIM 3 Bantul) – Suasana belajar yang nyaman dan penuh kasih sayang terbukti mampu mengubah ruang kelas menjadi tempat yang dirindukan oleh anak-anak. Ketika sekolah sudah dianggap sebagai “rumah kedua”, di situlah proses pembentukan karakter, mental, dan akhlak mulia anak dapat berjalan dengan maksimal.

​Hal tersebut ditegaskan oleh Sutinah, S.Pd., Guru Kelas 3B Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Bantul. Menurutnya, keberhasilan pembelajaran di tingkat sekolah dasar tidak hanya diukur dari angka-angka di atas kertas rapis, melainkan dari kedekatan emosional yang terbangun di lingkungan sekolah.

​Tiga Pilar Utama Hubungan Emosional

​Untuk mewujudkan iklim belajar yang ideal, Ibu Sutinah menekankan pentingnya sinergi yang kuat antara tiga pihak utama:

    • Guru dan Siswa: Guru bukan sekadar pengajar, melainkan orang tua di sekolah yang mendengarkan, mengayomi, dan memahami keunikan setiap anak.
    • Guru dan Orang Tua: Komunikasi yang terbuka membuat program pembiasaan akhlak di sekolah bisa dilanjutkan dengan konsisten di rumah.
    • Siswa dan Orang Tua: Dukungan penuh dari rumah memberikan rasa aman secara psikologis bagi anak saat mereka belajar di sekolah.

​”Pada saat kelas menjadi rumah kedua, hubungan emosional yang kuat antara guru, siswa, dan orang tua menjadi kunci keberhasilan pembelajaran, terutama dalam membangun mental dan akhlak anak,” — Sutinah, Guru Kelas 3B MIN 3 Bantul.

​Dampak Positif pada Mental dan Karakter Anak

​Ketika hubungan emosional segitiga ini berjalan harmonis, dampak positifnya akan langsung terlihat pada perkembangan anak sehari-hari. Melalui pendekatan “Kelas sebagai Rumah Kedua” ini, MIN 3 Bantul terus berkomitmen untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara mental dan berakhlak karimah. (Agassa)