Bantul – Mengubah teks menjadi emosi bukanlah perkara mudah, namun itulah yang sedang diperjuangkan oleh siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Negeri  3 Bantul. Dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi kompetisi mendatang, madrasah ini menggelar pembinaan intensif lomba baca puisi dengan fokus utama pada teknik penghayatan kata.

Pembinaan yang berlangsung di aula madrasah ini menghadirkan pelatih berpengalaman, Ustadz Ahmad Agus Salim. Beliau menekankan bahwa membaca puisi bukan sekadar lantang bersuara, melainkan bagaimana seorang siswa mampu “menghidupkan” setiap kata yang tertulis.

Dalam sesi latihan tersebut, Ustadz Ahmad Agus Salim terlihat telaten membimbing satu per satu siswa. Beliau memberikan pemahaman mendalam mengenai makna di balik bait-bait puisi agar siswa tidak terjebak pada intonasi yang monoton.

“Puisi adalah ruh yang dipindahkan ke dalam suara. Jika siswa tidak menghayati maknanya, maka pesan dalam puisi tersebut tidak akan sampai ke hati pendengar,” ujar Ustadz Ahmad saat memberikan arahan.

Para siswa tampak sangat antusias mengikuti instruksi. Meski awalnya beberapa siswa merasa malu-malu untuk berekspresi, lewat bimbingan yang persuasif, mereka mulai berani menunjukkan emosi yang mendalam saat membacakan bait demi bait puisi.

Pihak sekolah berharap melalui pembinaan ini, siswa MIN 3 Bantul tidak hanya siap secara teknik untuk meraih juara, tetapi juga memiliki kepekaan rasa dan literasi yang lebih baik melalui karya sastra. (Agassa)