Bantul (MIN 3 Bantul) — Inovasi strategi pedagogis terus diupayakan untuk mengikis paradigma bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang kaku dan abstrak. Bertempat di ruang kelas 3A MIN 3 Bantul, guru kelas, Mujiyati, S.Pd., mengimplementasikan metode jarimatika dalam materi operasi hitung perkalian, Kamis (15/10/2026). Langkah ini ditujukan untuk memfasilitasi internalisasi konsep dasar berhitung secara kinestetik, konkret, dan menyenangkan.

Metode jarimatika mendayagunakan jemari tangan sebagai instrumen visual sekaligus alat manipulatif hitung tanpa bergantung pada hafalan verbal mekanistik. Dalam implementasinya, Mujiyati mengenalkan kaidah formasi dan nilai tempat pada masing-masing ruas jari. Melalui panduan sistematis bertahap, siswa diajak mengonversi simbol-simbol perkalian angka dasar menjadi representasi gerakan motorik yang terstruktur.

Peserta didik menunjukkan tingkat atensi dan keterlibatan aktif (student engagement) yang tinggi sepanjang proses transmisi materi. Pendekatan berbasis aktivitas (activity-based learning) ini terbukti mereduksi tingkat kecemasan matematis (math anxiety) peserta didik, mempermudah retensi memori jangka panjang terhadap tabel perkalian dasar, serta mempercepat capaian pemahaman kalkulasi secara efisien.

“Pemberian materi hitung dasar pada fase perkembangan operasional konkret menuntut pendekatan yang aplikatif dan dekat dengan tubuh anak. Jarimatika menjembatani transisi pemikiran konkret menuju abstrak, sehingga siswa tidak sekadar menghafal hasil kali, melainkan memahami proses algoritmanya dengan ceria,” papar Mujiyati di sela-sela observasi kelas.

Melalui optimalisasi teknik berhitung praktis ini, MIN 3 Bantul berkomitmen memperkuat literasi numerasi dasar peserta didik. Penguasaan konsep operasi bilangan yang solid pada fase fondasi madrasah ibtidaiyah diharapkan menjadi landasan kognitif yang kokoh bagi pembelajaran matematika tingkat lanjut. (Agassa)