
Bantul (MIN 3 Bantul) – Sebagai wujud implementasi kurikulum yang kontekstual dan berorientasi pada penguatan karakter serta pelestarian kearifan lokal, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Bantul menyelenggarakan kegiatan kokurikuler berbasis proyek (Project-Based Learning) bagi peserta didik Fase B. Kegiatan ini memfokuskan pada pemanfaatan limbah anorganik berupa kardus dan bahan bekas lainnya untuk dikreasikan menjadi karya seni wayang.
Pelaksanaan proyek ini dirancang secara terstruktur dan terpadu guna menstimulasi dimensi Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin, khususnya pada aspek bernalar kritis, gotong royong, dan kreativitas. Dalam praktiknya, peserta didik diarahkan untuk mengidentifikasi potensi material daur ulang di lingkungan sekitar, merancang pola karakter pewayangan, hingga tahap penyelesaian artistik.
Kegiatan ini berlangsung dengan pendampingan intensif dari para guru kelas masing-masing, di bawah koordinasi Siti Yatimah, S.Pd. Dalam keterangannya, koordinator kegiatan menegaskan bahwa integrasi antara edukasi ekologis dan seni tradisional merupakan langkah strategis dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan sekaligus merawat identitas budaya sejak usia dini.
“Melalui pendekatan hands-on learning, peserta didik tidak hanya dilatih memiliki keterampilan motorik dan daya cipta, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai filosofis luhur yang terkandung dalam seni pewayangan serta urgensi pengelolaan limbah secara berkelanjutan,” ujar Siti Yatimah.
Sebagai muara dari rangkaian proses pembelajaran kontekstual ini, hasil karya peserta didik akan dievaluasi dan dipersiapkan menuju agenda Gelar Karya madrasah. Pada puncak kegiatan tersebut, perwakilan peserta didik terpilih akan mendemonstrasikan kompetensi literasi tutur dan apresiasi seni melalui pertunjukan dalang cilik, dengan memanfaatkan wayang kardus yang telah diproduksi secara mandiri.
Penyelenggaraan proyek kokurikuler ini diharapkan mampu membangun ekosistem belajar yang transformatif, di mana peserta didik tidak hanya bertindak sebagai konsumen pengetahuan, melainkan agen kreatif yang mampu mengartikulasikan nilai budaya lokal melalui media ramah lingkungan. (Agassa)




