Bantul (MIN 3 Bantul) — Ikhtiar mentransformasi pembelajaran fikih dari sekadar transfer kognitif menuju konstruksi nalar kritis teologis terus dihadirkan di lingkungan madrasah. Bertempat di ruang kelas 5 MIN 3 Bantul, suasana belajar tampil dinamis melalui penerapan model integrasi literasi membaca mendalam (deep reading literacy) yang dikoneksikan dengan pemetaan pikiran (mind mapping) pada materi syariat kurban, di bawah bimbingan guru Fikih, Ahmad Agus Salim, Lc., M.A.

Langkah pedagogis ini dirancang sebagai jembatan epistemologis bagi peserta didik fase C untuk membedah konsep-konsep fikih yang kerap dipersepsikan abstrak dan sarat distingsi hukum. Melalui sintesis antara ketajaman literasi teks dan visualisasi grafis, peserta didik diajak menelaah literatur pembelajaran secara bertahap: mengidentifikasi dalil, menganalisis syarat keabsahan hewan sembelihan, hingga memahami tata cara pembagian daging kurban secara proporsional.

Ahmad Agus Salim menuturkan bahwa integrasi ini bertujuan menumbuhkan kecakapan metakognitif sejak usia dini. “Fikih sejatinya adalah ilmu tentang penalaran dan pemahaman mendalam (al-fahm). Ketika literasi tekstual dipadukan dengan jejaring visual peta konsep, peserta didik tidak hanya menghafal rukun dan syarat, melainkan mampu mengorganisasi struktur hukum secara hierarkis dan logis. Pola ini menghubungkan nalar intelektual mereka dengan esensi ketundukan spiritual dalam ibadah kurban,” terangnya.

Dalam pelaksanaannya, aktivitas belajar berlangsung secara kolaboratif. Para siswa mulanya melakukan pembacaan kritis terhadap teks naratif dan normatif seputar historisitas serta regulasi syariat kurban. Berbekal saripati bacaan tersebut, setiap kelompok menyusun bagan mind map berdimensi warna dan simbolik, yang memetakan cabang-cabang hukum: mulai dari jenis hewan, waktu penyembelihan, hingga implikasi sosial-filantropisnya bagi kemaslahatan umat.

Kepala MIN 3 Bantul, Subarniyati, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan apresiasi tinggi terhadap terobosan diferensiasi pembelajaran ini. Menurutnya, pendekatan inovatif tersebut selaras dengan orientasi Kurikulum Merdeka yang menekankan penguatan fondasi literasi dan nalar kontekstual. “Integrasi literasi dan visualisasi konsep ini berhasil mengikis kejenuhan belajar serta menghadirkan ruang dialektika yang bermakna di kelas. Anak-anak belajar memahami esensi syariat dengan gembira, terstruktur, dan bermartabat,” ungkapnya.

Melalui sinergi literasi membaca dan pemetaan kognitif ini, MIN 3 Bantul kian meneguhkan komitmennya dalam menyajikan ekosistem pendidikan Islam yang harmonis antara kedalaman wawasan fiqhiyyah, kemahiran literasi dasar, dan kepekaan sosial peserta didik. (agassa)