
Bantul (MIN 3 Bantul) — Pembelajaran hafalan Al-Qur’an pada jenjang pendidikan dasar memerlukan pendekatan pedagogis yang adaptif agar proses internalisasi materi berlangsung efektif dan bermakna. Mengakomodasi kebutuhan perkembangan kognitif serta motorik peserta didik fase fondasi, MIN 3 Bantul mengimplementasikan inovasi pembelajaran Tahfidz berbasis educational games dengan memanfaatkan media manipulatif berbahan dasar kardus bekas di kelas 1A.
Kegiatan pembelajaran yang diinisiasi oleh guru pengampu, Maftuchah, berfokus pada materi pengurutan nama-nama surat Al-Qur’an. Desain instruksional ini memadukan konsep active learning dengan pemanfaatan media sederhana ramah lingkungan guna menciptakan suasana belajar yang kondusif, interaktif, dan nir-monoton.
Maftuchah menjelaskan bahwa karakteristik peserta didik kelas 1 berada pada tahap transisi operasional konkret, di mana pemahaman konseptual akan lebih mudah terbangun melalui representasi fisik dan aktivitas kinestetik.
“Pemanfaatan potongan kardus bekas yang diberi label nama-nama surat berfungsi sebagai media konkret yang menstimulasi keterlibatan aktif siswa. Melalui mekanisme permainan menyusun dan mengurutkan secara berkelompok, siswa tidak sekadar menghafal secara mekanis, melainkan melatih daya ingat sekuensial, ketelitian, serta kemampuan kolaboratif antarpeserta didik,” ungkap Maftuchah di sela-sela kegiatan belajar.
Secara teknis, proses pembelajaran diawali dengan apersepsi dan pengenalan nama-nama surat, dilanjutkan dengan pembagian kelompok kerja. Setiap kelompok menerima kartu nama surat berbasis kardus bekas yang telah diacak. Tantangan permainan menuntut siswa menyusun kartu-kartu tersebut secara berurutan sesuai urutan mushaf Al-Qur’an, yang kemudian diverifikasi bersama melalui pelafalan hafalan.
Pendekatan ini tidak hanya menstimulasi aspek kognitif dan daya ingat siswa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis (eco-literacy) melalui pemanfaatan material daur ulang sebagai sarana pembelajaran bermutu. Evaluasi formatif yang berlangsung sepanjang simulasi menunjukkan peningkatan atensi dan retensi hafalan siswa secara signifikan dibanding metode ceramah konvensional.
Melalui terobosan instruksional ini, MIN 3 Bantul menegaskan komitmennya dalam menghadirkan diferensiasi pembelajaran agama Islam yang ramah anak, kontekstual, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat fondasi literasi Al-Qur’an sejak dini. (agassa)




