Bantul (MIN 3 Bantul) — Pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas 2A MIN 3 Bantul berlangsung semarak dan interaktif pada Selasa (3/11/2026). Guru kelas, Moh. Fadlan, S.Pd.I., menghadirkan inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan media digital untuk mengenalkan materi kalimat aktif dan kalimat pasif kepada para peserta didik.

​Langkah ini diambil untuk mengubah persepsi bahwa materi tata bahasa cenderung teoritis dan membosankan bagi anak usia madrasah ibtidaiyah. Melalui perpaduan slide presentasi interaktif, animasi visual gerak peran subjek-objek, dan kuis digital, para siswa diajak memahami pola kalimat secara kontekstual dan menyenangkan.

​Dalam sesi pembelajaran, Moh. Fadlan memperlihatkan simulasi visual di depan kelas. Ketika gambar seekor kucing mengejar bola ditampilkan, siswa diajak menyusun kalimat aktif: “Kucing mengejar bola.” Selanjutnya, dengan transisi animasi digital, fokus visual dibalik sehingga siswa dengan mudah menangkap konsep kalimat pasif: “Bola dikejar kucing.” Pola awalan imbuhan me- dan di- pun menjadi jauh lebih konkret dan mudah diingat melalui kode warna visual pada layar.

​Moh. Fadlan menjelaskan bahwa integrasi perangkat digital pada tingkat dasar sangat efektif membangkitkan fokus dan partisipasi aktif siswa.

​”Anak-anak kelas dua berada pada fase peralihan berpikir konkret. Jika kita hanya mendiktekan rumus subjek-predikat-objek di papan tulis, mereka cepat jenuh. Melalui visual digital dan simulasi interaktif, mereka langsung melihat siapa yang melakukan aksi dan siapa yang dikenai tindakan. Belajar tata bahasa pun terasa seperti bermain tebak gambar,” ungkap Fadlan.

​Antusiasme tampak jelas sepanjang kegiatan. Siswa secara bergantian maju ke depan untuk memilih pasangan kata kerja yang tepat serta menjawab tebak peran kalimat lewat kuis kelompok interaktif. Suasana kelas dipenuhi tawa dan tepuk tangan setiap kali kelompok berhasil mengubah kalimat aktif menjadi pasif dengan tepat.

​Kepala MIN 3 Bantul, Subarniyati, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan apresiasinya terhadap konsistensi para pendidik dalam mengoptimalkan media pembelajaran digital di ruang kelas.

​”Pemanfaatan media interaktif seperti ini sejalan dengan komitmen madrasah digital di lingkungan Kemenag DIY. Kami terus mendorong guru-guru untuk berkreasi agar ruang kelas senantiasa hidup, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi seluruh peserta didik,” tutur Subarniyati.

​Melalui kegiatan pembelajaran ini, siswa kelas 2A tidak hanya berhasil menguasai kompetensi dasar berbahasa Indonesia dengan tuntas, tetapi juga merasakan pengalaman belajar yang menggembirakan di era transformasi digital madrasah. (agassa)