Bantul (MIN 3 Bantul) — Ruang kelas 1 MIN 3 Bantul bertransformasi menjadi laboratorium gerak yang dinamis dan sarat makna edukatif. Mengikis paradigma pembelajaran konvensional yang kerap membatasi ruang eksplorasi peserta didik usia dini, Praptap Kurniawan, S.Pd., menghadirkan terobosan pedagogis melalui integrasi permainan bowling kerucut dan bola kasti sebagai medium pembelajaran berbasis praktik (kinesthetic and experiential learning).

Inovasi ini diikhtiarkan sebagai ikhtiar kontekstual untuk menjembatani transisi perkembangan anak dari jenjang prasekolah menuju fase literasi dan numerasi formal sekolah dasar. Memanfaatkan kerucut penanda (traffic cone) bernomor sebagai bidikan serta bola kasti sebagai sarana pelempar, pembelajaran dirancang sedemikian rupa guna menstimulasi kecerdasan kinestetik, fokus spasial, sekaligus kemampuan berhitung secara simultan.

Dalam pelaksanaannya, setiap peserta didik diajak mempraktikkan keterampilan motorik kasar, mulai dari postur tubuh seimbang, koordinasi mata-tangan (hand-eye coordination), hingga taksiran gaya lempar terukur. Nuansa kompetisi yang sehat berpadu dengan kegembiraan ketika bola kasti yang menggelinding berhasil merobohkan kerucut. Lebih jauh dari sekadar aspek fisik, aktivitas ini segera dilanjutkan dengan kalkulasi numerasi sederhana: siswa mengidentifikasi nilai angka pada kerucut yang tumbang, menjumlahkannya, dan mendokumentasikan capaian secara mandiri maupun kolaboratif.

Praptap Kurniawan, S.Pd., menuturkan bahwa esensi pendidikan pada anak usia dini bertumpu pada penciptaan iklim belajar yang afektif dan bermakna. “Dunia anak adalah dunia bermain. Melalui modifikasi alat sederhana seperti kerucut dan bola kasti, kita tidak hanya mengasah ketangkasan fisik, melainkan juga menanamkan nilai sportivitas, regulasi emosi, serta daya abstraksi numerik anak tanpa kesan membebani,” ungkapnya di sela-sela kegiatan.

Antusiasme terpancar jelas di sepanjang proses pembelajaran. Gelak tawa beriring tepuk tangan riuh menjadi penanda terciptanya suasana belajar yang nir-tekanan (low-stress, high-engagement). Peserta didik belajar menanti giliran dengan tertib, merefleksikan kegagalan lemparan dengan mencoba kembali, dan merayakan keberhasilan rekan sebayanya sebagai wujud penanaman karakter profil pelajar yang unggul.

Inisiatif pembelajaran ini menegaskan komitmen MIN 3 Bantul dalam menghidupkan ekosistem madrasah yang adaptif, ramah anak, dan senantiasa berorientasi pada keberpihakan terhadap potensi unik setiap peserta didik. Melalui sentuhan kreativitas pendidik, sarana pembelajaran sederhana mampu diubah menjadi instrumen pedagogis yang berdampak mendalam bagi tumbuh kembang holistik generasi tunas bangsa. (agassa)