Bantul – Suasana ruang kelas 2 A MIN 3 Bantul tampak berbeda dari biasanya. Meja-meja siswa yang biasanya dipenuhi buku tulis, kini dipenuhi dengan potongan plastisin warna-warni. Di bawah bimbingan guru kelas, Moh. Fadlan, para siswa sedang asyik mempraktikkan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta melalui mata pelajaran Seni Rupa.

Kali ini, proyek yang dikerjakan adalah membuat replika masjid. Bukan sekadar tugas prakarya biasa, kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan rasa cinta siswa terhadap tempat ibadah sekaligus mengasah motorik halus mereka.

Menyentuh Hati Melalui Kreativitas

Moh. Fadlan menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta menekankan pada pendekatan yang humanis dan menyenangkan. Dalam praktik ini, siswa tidak hanya diajarkan teknik membentuk (membutsir), tetapi juga diajak berdialog tentang makna masjid sebagai rumah ibadah yang penuh kedamaian.

“Kami ingin anak-anak merasa senang dulu. Saat mereka membentuk kubah atau menara dengan tangan sendiri, muncul rasa bangga dan keterikatan emosional terhadap apa yang mereka buat. Itulah inti dari Kurikulum Berbasis Cinta; belajar dengan hati,” ujar Fadlan di sela-sela kegiatannya.

Proses Pembuatan yang Ceria

Para siswa terlihat antusias memilin dan menempelkan plastisin hingga membentuk bangunan yang utuh. Ada yang memilih warna hijau cerah untuk kubahnya, ada pula yang membuat detail jendela kecil dengan sangat teliti.

  • Bahan: Plastisin (malam) aneka warna.

  • Target: Melatih konsentrasi, kreativitas, dan pengenalan arsitektur sederhana.

  • Nilai Karakter: Kemandirian dan apresiasi terhadap nilai-nilai religius.

Hasil karya siswa kelas 2 A ini nantinya akan dipajang di sudut kreativitas kelas sebagai bentuk apresiasi atas usaha dan cinta yang mereka tuangkan dalam setiap bentuk plastisin tersebut. (Agassa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Postingan Terkait