Bantul (MIN 3 Bantul)– Suasana ruang kelas 2A MIN 3 Bantul tampak berbeda dari biasanya. Tidak hanya buku dan pensil, meja-meja siswa dipenuhi dengan potongan pelepah pisang dan pewarna makanan. Di bawah bimbingan guru kelas mereka, Moh. Fadlan, S. Pd. I, para siswa sedang mengeksplorasi teknik batik cap alternatif menggunakan bahan alam, Selasa (20/01).

​Inovasi Media Pembelajaran

​Alih-alih menggunakan canting atau stempel tembaga yang rumit, Moh. Fadlan mengajak siswa memanfaatkan limbah organik berupa pelepah pisang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan konsep tekstur dan pola berulang dalam seni batik dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak usia dini.

​”Kami ingin menunjukkan bahwa seni itu tidak harus mahal. Dengan pelepah pisang, anak-anak belajar mengamati tekstur alami yang dihasilkan alam untuk dijadikan karya seni yang bernilai,” ujar Moh. Fadlan.

​Proses Pembuatan yang Menyenangkan

​Para siswa terlihat antusias mencelupkan potongan pelepah pisang ke dalam piring berisi pewarna, lalu menekannya dengan hati-hati di atas kertas gambar. Pola-pola geometris dan organik mulai terbentuk, menciptakan gradasi warna yang unik khas serat batang pisang.

​Melalui metode ini, siswa kelas 2A tidak hanya belajar tentang estetika, tetapi juga melatih:

  • Motorik Halus: Ketepatan saat menekan (mengecap) agar motif tidak meluber.
  • Kreativitas: Memadukan berbagai warna dan susunan pola.
  • Kesadaran Lingkungan: Memanfaatkan bahan di sekitar sekolah menjadi media berkarya.

​Hasil Karya Siswa

​Salah satu siswa, merasa senang karena bisa membuat “batik” buatannya sendiri. “Ternyata pelepah pisang kalau dipotong dalamnya ada kotak-kotaknya bagus, jadi seperti bunga kalau dicap,” ungkapnya dengan bangga sambil menunjukkan hasil karyanya.

​Kegiatan pembelajaran kreatif seperti ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta siswa terhadap budaya lokal sejak dini, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan alat bukanlah penghalang untuk berinovasi di dalam kelas. (Agassa)