Bantul (MIN 3 Bantul) — Pembelajaran lintas disiplin ilmu yang memadukan konsep logika matematis dan ekspresi artistik diterapkan di kelas 2A MIN 3 Bantul. Melalui materi dekomposisi dan komposisi bidang datar, para siswa diajak mengonstruksi aneka objek kontekstual di sekitar mereka menggunakan media kertas origami. Kegiatan pembelajaran interdisipliner ini diampu langsung oleh guru kelas 2A, Moh. Fadlan, sebagai upaya konkret menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning).

Fokus materi diarahkan pada pemahaman analitis terhadap karakteristik bangun datar dua dimensi. Siswa tidak sekadar menghafal bentuk-bentuk geometri secara teoritis, melainkan secara aktif mengidentifikasi, mengurai (dekomposisi), dan menggabungkan kembali (komposisi) elemen bangun dasar—seperti persegi empat, segitiga, dan lingkaran—ke dalam sebuah bentuk utuh.

Dalam implementasi proyek, peserta didik diarahkan merancang miniatur kendaraan roda empat (mobil). Kertas origami dipotong dan disusun secara proporsional: persegi empat difungsikan sebagai badan utama dan kabin kendaraan, lingkaran sebagai representasi roda, serta segitiga sebagai aksen aerodinamis maupun kaca samping. Interaksi visual dan kinestetik ini menstimulasi kemampuan spasial siswa sekaligus mengasah motorik halus mereka melalui teknik melipat, menggunting, dan merekatkan.

Moh. Fadlan menjelaskan bahwa integrasi antara matematika dan seni rupa (pendekatan STEAM) bertujuan mereduksi abstraksi konsep geometri bagi anak usia sekolah dasar fase A.

“Matematika kerap dipersepsikan sebatas hitungan angka dan simbol kaku. Melalui medium seni rupa berbasis kertas origami ini, siswa diajak mentranslasikan abstraksi bentuk geometri ke dalam representasi objek konkret yang dekat dengan keseharian mereka. Proses ini melatih penalaran visual-spasial, daya kritis dalam membedah struktur objek, sekaligus ruang penyaluran kreativitas estetis secara terpadu,” ungkap Moh. Fadlan di sela-sela pendampingan kelas.

Antusiasme peserta didik tampak tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Setiap siswa secara mandiri mempresentasikan komposisi bangun datar yang menyusun miniatur mobil karya mereka di hadapan teman sebaya. Penerapan model pembelajaran berbasis proyek mini (project-based learning) ini menegaskan komitmen madrasah dalam mengembangkan keterampilan abad ke-21—khususnya kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan daya cipta (creativity)—sejak jenjang dasar. (agassa)