Bantul (MIN 3 Bantul). Pembelajaran Bahasa Jawa di kelas seringkali dianggap monoton oleh sebagian siswa. Namun, hal tersebut tidak berlaku di MIN 3 Bantul. Muslikhah, S.Pd.I., selaku Guru Kelas 1 A MIN 3 Bantul, sukses menarik antusiasme siswanya melalui pembelajaran Bahasa Jawa materi Perangane Awak (Anggota Tubuh) yang dikemas secara interaktif menggunakan media digital dan praktik langsung di kelas.

Kegiatan pembelajaran ini dirancang agar siswa tidak hanya menghafal kosakata nama-nama anggota tubuh dalam Bahasa Jawa krama maupun ngoko, tetapi juga mampu memahami letak dan fungsinya secara nyata.

Kombinasi Teknologi dan Kinestetik

Dalam pelaksanaannya, Muslikhah memadukan penayangan media digital berupa video interaktif dan gambar visual berwarna yang menampilkan bagian-bagian tubuh manusia. Melalui layar proyektor, siswa diajak mengenali kosakata dasar seperti sirah (kepala), mripat (mata), irung (hidung), talingan (telinga), hingga sikil (kaki).

Setelah pemutaran media digital, suasana kelas menjadi semakin meriah saat sesi praktik langsung dimulai. Secara bergiliran, para siswa kelas 1 A diminta maju ke depan kelas untuk menunjuk bagian tubuh mereka sendiri sambil mengucapkan namanya dalam Bahasa Jawa dengan bimbingan guru.

“Pembelajaran untuk anak usia kelas 1 SD/MI harus menyenangkan dan melibatkan banyak indra mereka. Dengan memadukan media digital dan praktik langsung, anak-anak lebih cepat paham, tidak mudah bosan, dan aktif berpartisipasi,” ujar Muslikhah.

Dukungan Penuh Madrasah

Inovasi pembelajaran kreatif ini mendapat apresiasi positif dari pihak madrasah. Metode belajar yang memadukan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) dan pendekatan kinestetik ini dinilai sangat efektif untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya dan bahasa daerah sejak dini, khususnya Bahasa Jawa sebagai muatan lokal di madrasah.

Melalui metode ini, siswa Kelas 1 A MIN 3 Bantul terlihat ceria, aktif, dan lebih percaya diri. Diharapkan, langkah kreatif seperti ini dapat terus dikembangkan pada materi-materi pembelajaran lainnya guna mewujudkan madrasah yang inovatif dan menyenangkan. (Agassa)