Pada tahun 2025, perekonomian global dihadapkan pada berbagai tantangan yang memicu kekhawatiran akan terjadinya resesi. Indonesia, sebagai bagian dari ekonomi dunia, turut merasakan dampak dari dinamika tersebut. Artikel ini akan membahas seberapa besar ancaman resesi 2025 terhadap ekonomi Indonesia, faktor-faktor penyebab, indikator ekonomi terkini, serta langkah-langkah yang dapat diambil untuk menghadapinya.​

Proyeksi Ekonomi Global dan Indonesia

Menurut proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan ekonomi global pada 2025 diperkirakan mencapai 3,2%, sedikit lebih rendah dari prediksi awal sebesar 3,3%. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya risiko perang dan proteksionisme perdagangan yang dapat menghambat aktivitas ekonomi global.

Di Indonesia, meskipun terdapat kekhawatiran akan resesi, beberapa indikator menunjukkan bahwa perekonomian masih berada dalam kondisi yang relatif stabil. Data Bloomberg pada Februari 2025 menunjukkan probabilitas resesi Indonesia kurang dari 5%, jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara lain.

Indikator Ekonomi Terkini

Namun, beberapa indikator ekonomi domestik menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang perlu diwaspadai:

  1. Pelemahan Nilai Tukar Rupiah: Pada Maret 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai titik terendah sejak krisis finansial Asia 1998, yaitu Rp16.640 per dolar. Pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal pemerintah dan meningkatnya defisit anggaran.

  2. Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG): IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 7,1% dalam satu sesi perdagangan pada Maret 2025, memicu penghentian perdagangan sementara. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi domestik.

  3. Deflasi dan Penurunan Daya Beli: Data menunjukkan terjadinya deflasi untuk pertama kalinya dalam 25 tahun terakhir, mengindikasikan penurunan daya beli masyarakat. Hal ini dapat berdampak negatif pada pertumbuhan sektor industri dan konsumsi domestik.

Faktor Penyebab Kekhawatiran Resesi

Beberapa faktor yang memicu kekhawatiran akan resesi di Indonesia antara lain:

  • Kebijakan Fiskal Ekspansif: Pemerintah meluncurkan program sosial besar, seperti program makan gratis senilai $28 miliar per tahun, yang meningkatkan defisit anggaran dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal.

  • Penurunan Investasi Asing: Investor asing menarik lebih dari $2 miliar dari pasar saham Indonesia pada tahun ini, mencerminkan menurunnya kepercayaan terhadap prospek ekonomi domestik.

  • Ketidakpastian Kebijakan: Kurangnya komunikasi yang efektif mengenai kebijakan fiskal dan ekonomi pemerintah menyebabkan ketidakpastian di kalangan pelaku pasar.

Untuk menghadapi potensi resesi dan menjaga stabilitas ekonomi, beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  1. Kebijakan Moneter yang Adaptif: Bank Indonesia dapat menyesuaikan suku bunga acuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sambil menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pada Januari 2025, BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% untuk mendorong pertumbuhan.

  2. Pengelolaan Fiskal yang Prudent: Pemerintah perlu memastikan bahwa program-program sosial yang diluncurkan didanai secara berkelanjutan tanpa meningkatkan defisit anggaran secara signifikan. Transparansi dan komunikasi yang jelas mengenai kebijakan fiskal akan membantu memulihkan kepercayaan investor.

  3. Mendorong Investasi dan Daya Saing: Upaya deregulasi dan pemberian insentif bagi sektor industri dan manufaktur dapat meningkatkan daya saing dan menarik investasi asing. Pemerintah berencana untuk melakukan deregulasi sektor manufaktur dan memberikan kredit kepada industri padat karya sebagai bagian dari strategi ini.

  4. Peningkatan Daya Beli Masyarakat: Mengimplementasikan kebijakan yang mendukung peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat, seperti program bantuan sosial yang tepat sasaran dan penciptaan lapangan kerja, akan membantu mencegah penurunan konsumsi domestik.

Kesimpulan

Meskipun terdapat kekhawatiran akan potensi resesi pada 2025, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup baik dibandingkan beberapa negara lain. Namun, tanda-tanda perlambatan ekonomi seperti pelemahan rupiah, penurunan IHSG, dan deflasi memerlukan perhatian serius. Dengan menerapkan kebijakan moneter dan fiskal yang tepat, serta mendorong investasi dan konsumsi domestik, Indonesia diharapkan dapat menghadapi tantangan ekonomi global dan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonominya