Gunakan Metode Kombinasi, Wujud Kreativitas di Masa Pandemi

(Bantul) MIN 3 Bantul. Kreativitas adalah kata kunci untuk bisa terus survive dalam menghadapi kondisi yang tidak pasti sebagaimana di masa pandemi ini. Kesehatan dan keselamatan jiwa memang menjadi prioritas utama, dan jika kita telaah lebih dalam, ajaran Agama Islam juga mengharuskan pengikutnya untuk menempatkan keselamatan jiwa di posisi yang istimewa. Imam Asy-Syatibi telah menjelaskan bahwa ada lima prinsip umum maqashid syariah (Tujuan Hukum Islam) atau yang lebih dikenal dengan istilah kulliyat al khamsah, yaitu hifdzu din (melindungi agama), hifdzu nafs (melindungi jiwa), hifdzu aql (melindungi pikiran), hifdzu maal (melindungi harta) dan hifdzu nasab (melindungi keturunan).

Jika kita menerjemahkan pemahaman konsep diatas, maka tak bisa dipungkiri bahwa kebijakan pemerintah yang memprioritaskan keselamatan jiwa masyarakat dengan melaksanakan berbagai pembatasan kegiatan sudah tepat. Namun, meskipun begitu, sebagai manusia yang dilengkapi oleh Yang Maha Kuasa dengan akal pikiran, maka sebuah keniscayaan bagi kita untuk berupaya semaksimal mungkin agar dapat melaksanakan aktivitas, tugas dan kewajiban dalam kondisi apapun. Ada sebuah kaidah dalam ilmu fiqih yang berbunyi “Ma Laa Yatimmul Wajib Illa Bihii Fa Huwa Wajib” (Perkara yang menjadi penyempurna dari perkara wajib, hukumnya juga wajib), Maksudnya adalah segala perkara yang menjadikan suatu amal kewajiban tak dapat dikerjakan sama sekali atau bisa dikerjakan namun tidak sempurna kecuali dengan juga mengerjakan perkara tersebut, maka perkara tersebut yang asalnya tidak wajib, dihukumi wajib pula.

Dalam fase pandemi, maka pembelajaran lebih banyak memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, model daring, virtual atau memanfaatkan sosial media sebagai salah satu instrumen yang digunakan. Semua itu menjadikan para guru mau tidak mau harus menjadi pengajar zaman now, melek teknologi, bisa menggunakan komputer, laptop dan perangkatnya, serta memahami fasilitas kekinian yang digunakan anak zaman sekarang.. Bertolak dari hal tersebut, MIN 3 Bantul mencoba bagaimana agar hak-hak peserta didik untuk mendapatkan pembelajaran dengan baik dapat terlaksana. Hajar Utami, S. Pd. Guru Kelas 6 yang juga ketua panitia Penilaian Tengah Semester (PTS) Genap MIN 3 Bantul menyatakan bahwa dengan berbagai pertimbangan, kami menerapkan 3 metode dalam pelaksanaan PTS Genap yang dimulai hari senin kemarin, 15 Maret 2021 dan berakhir pada tanggal 22 Maret 2021. Metode pertama yaitu tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat untuk kelas 6 dengan menjadikan satu ruang ujian terbatas hanya untuk 10 siswa dengan diawasi oleh guru pengawas secara terjadwal. Adapun metode kedua menggunakan media daring untuk kelas 1 sampai 5, memanfaatkan aplikasi google form yang dinilai familiar dan mudah digunakan baik oleh guru maupun siswa. Sedangkan yang ketiga adalah metode luring bagi peserta didik yang memiliki keterbatasan fasilitas untuk daring dengan cara mengambil soal yang sudah disiapkan oleh panitia di madrasah dan kemudian mengantarkan kembali lembar jawaban yang sudah dikerjakan.

Kepala MIN 3 Bantul, Dra. Hanik Nurul Hidayah, M. Si menegaskan bahwa guru harus menjadi ujung tombak yang menjadi pioner kebangkitan bangsa setelah mengalami keterpurukan selama setahun ini karena penyebaran virus corona. Guru harus berupaya untuk belajar berbagai media teknologi jika ingin anak didiknya dapat terus tholabul ilmi. Seorang guru itu adalah orang yang berani mengajar karena dia sendiri tidak pernah berhenti belajar. (agassa)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*